728 x 90

Workshop Program Pengendalian Resistensi Antimikrobial di RSUP DR. M. Djamil Padang

Workshop Program Pengendalian Resistensi Antimikrobial  di RSUP DR. M. Djamil Padang
Workshop Program Pengendalian Resistensi Antimikrobial di RSUP DR. M. Djamil Padang

         Padang, Rs.Djamil- Pembukaan sekaligus pelaksanaan hari pertama Workshop Program Pengendalian Resistensi Antimikrobial dilakukan di Auditorium Rumah Sakit Umum Pusat DR. M. Djamil Padang, Kamis (12/10). ‘‘PPRA sebenarnya telah pernah dicanangkan pada tahun 2012 di RSUP DR. M. Djamil. Bahkan, dan juga sudah pernah dilatih dua orang staff ahli mikrobiologi dari rumah sakit ini. Namun, PPRA ini dulunya dianggap tidak begitu penting, sehingga tidak berjalan dengan baik. Ternyata, akreditasi JCI menghendaki sebuah Rumah Sakit wajib membuat sebuah tim PPRA yang masuk dalam elemen penting di dalam akreditasi. Oleh karena begitu pentingnya PPRA, dilakukanlah workshop mengenai PPRA ini yang diketuai oleh dr. Ermawati spOG.’’, kata Ketua Pelaksana Workshop, dr. Roslaili Rasyid, M. Biomed.

       Selain karena faktor akreditasi, tim PPRA ini memang seharusnya wajib ada di sebuah rumah sakit, terutama rumah sakit rujukan utama, seperti RSUP. DR. M. Djamil Padang. Seperti yang diketahui, antibiotik saat ini sudah banyak resisten terhadap kuman-kuman yang beredar di rumah sakit. Apalagi rumah sakit yang sudah tua, seperti M. Djamil. Resisten pada konteks ini adalah keadaan yang mengakibatkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang pernah diberikan. Hal ini terjadi karena bakteri telah berkembang atau mengenal antibiotik, sehingga bakteri membentuk sesuatu yang dapat menghambat invasi dari antibiotik tersebut. ‘‘Bakteri sudah banyak bermutasi berkali-kali. Terjadinya mutasi ini akan menurunkan potensi antibiotik pada sisi sasarannya. Ini dapat dilihat dengan adanya sedikit peningkatan konsentrasi antibiotik yang dibutuhkan untuk menghambat pertumbuhan organisme’’, sambut Roslaili.

        Permasalahan seperti ini banyak terjadi di negara-negara Asia. Begitu mudahnya pembelian antibiotik di Asia, tanpa resep. Selain itu, orang juga memberikan antibiotik untuk penggemukan ayam. Oleh sebab itu, terjadilah misius dan overius. Misius adalah penggunaan yang salah, sedangkan overius adalah orang tidak harus membeli antibiotik karena infeksinya adalah virus. ‘‘Untuk itulah, pentingnya PPRA ini dibentuk. Tujuannya adalah untuk meminimalkan penggunaan antibiotik agar kuman tidak semakin heboh dan tidak semakin bertambah resistennya, sehingga antibiotik yang ada saat ini masih bisa dipakai’’, ungkap Direktur Utama RSUP DR. M. Djamil Padang, Dr. dr. H. Yusirwan Yusuf, Sp.B.Sp.BA(K).

        Workshop ini terdiri atas 60 orang peserta yang berasal dari lima pilar PPRA, yaitu ahli PPIRS, Mikrobiologi, Farmasi, Klinisi, dan Keperawatan. Menghadirkan tujuh pembicara, yang dua pembicaranya berasal dari Erasmus University, Belanda. Di dalam workshop ini juga dilakukan pretest dan posttest kepada peserta workshop. ‘‘Semoga para peserta dapat menerapkan ilmu yang didapat dari workshop dengan baik dan RSUP DR. M. Djamil semakin berkualitas baik’’, kata Yusirwan. (Humas)

Admin
Admin
EDITOR

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *


0 Komentar

?>