728 x 90

SOFT OPENING PENILAIAN AKREDITASI JCI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

SOFT OPENING PENILAIAN AKREDITASI JCI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
SOFT OPENING PENILAIAN AKREDITASI JCI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

             Untuk melatih seluruh karyawan agar siap menghadapi akreditasi JCI, RSUP Dr. M. Djamil lakukan soft opening penilaian akreditasi JCI di Auditorium rumah sakit, Selasa (28/11). Pada kegiatan ini hadir juga Prof. Kamardi Thalut, Sp.B. selaku sesepuh rumah sakit, selain para direksi tentunya. “Pada hakikatnya, JCI merupakan suatu pengembangan dari penilaian akreditasi nasional, yaitu KARS. Namun, tekanan akreditasi JCI ini di samping kepada pelayanan kesehatan di rumah sakit, juga menekankan kepada hal pendidikan dan penelitian di rumah sakit. Jelaslah bahwa untuk permasalahan ini, kita jangan panik dan bingung. Komunitas kita di M. Djamil sudah terbiasa dengan masalah seperti ini,” sebut Kamardi.

            JCI merupakan akreditasi Internasional. Sebelumnya, RSUP Dr. M. Djamil sudah mendapatkan status akreditasi dari KARS sebagai rumah sakit paripurna dan rumah sakit rujukan nasional. “Setelah mendapatkan akreditasi dari KARS tersebut, sekarang kita akan berusaha untuk mendapatkan akreditasi JCI seperti himbauan dari Menteri Kesehatan bahwa setiap rumah sakit rujukan nasional harus terakreditasi Internasional dengan versi JCI, paling lambat 5 tahun setelah terbit SK rumah sakit paripurna. Kalau tidak, status rumah sakit rujukan nasional akan dicabut,” ungkap Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Yusirwan, Sp.B., Sp.BA (K)., MARS. Bercerita tentang akreditasi, memang sudah tidak menjadi hal yang asing dan aneh bagi rumah sakit-rumah sakit di Indonesia saat ini karena Puskesmas saja sudah harus terakreditasi. Di dalam Permenkes Nomor 34 Tahun 2017 tentang akreditasi juga telah tercantum bahwa semua rumah sakit di Indonesia wajib terakreditasi. Kemudian, di antara 2.468 rumah sakit di Indonesia, hanya 14 rumah sakit yang ditunjuk menjadi rumah sakit rujukan nasional, M. Djamil salah satunya. “Kita berangkat dari angka 80 bukan 0 karena nilai dari akreditasi KARS adalah 80. Untuk itu, kita akan terus berupaya untuk mencapai nilai 95 yang ditetapkan JCI. Desember ini kita akan mulai lakukan registrasi kepada JCI,” kata Dirut. Untuk mencapai akreditasi JCI ini, Kamardi menyebutkan bahwa ada tiga hal penting yang harus dilakukan. Pertama, mutlak harus adanya kerja sama antara M. Djamil dengan Fakultas Kedokteran UNAND, khususnya. Menurut sejarahnya, kedua institusi ini bagaikan dua sisi dari satu mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Kedua, tentunya sosisalisasi secara konsisten kepada komunitas M. Djamil. Ketiga, lakukan kerja sama bahu-membahu menurut filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa direksi adalah yang memberi contoh teladan kepada seluruh karyawan M. Djamil,” ungkap sesepuh M. Djamil ini.

            Dirut RSUP Dr. M. Djamil optimis bahwa M. Djamil bisa meraih akreditasi JCI. Menurutnya, semua karyawan M. Djamil telah berkompeten sesuai dengan profesinya masing-masing. Hanya tinggal, semua karyawan harus tau dengan standar JCI dan tekun mengimplementasikannya di lapangan. Ia selalu menekankan kepada karyawannya bahwa mutu JCI adalah harga mati. “Kita bisa meraih akreditasi JCI dengan kerja keras, jujur, dan ikhlas. Tidak ada yang tidak bisa, kata kuncinya adalah kebersamaan. M. Djamil bisa,” pungkas Dirut mengakhiri sambutannya. (Humas)

Admin
Admin
EDITOR

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *


0 Komentar

?>