728 x 90

PROCTORSHIP TINDAKAN PEMASANGAN EVAR UNTUK KASUS DISEKSI AORTA STANFORD B

PROCTORSHIP TINDAKAN PEMASANGAN EVAR UNTUK KASUS DISEKSI AORTA STANFORD B
PROCTORSHIP TINDAKAN PEMASANGAN EVAR UNTUK KASUS DISEKSI AORTA STANFORD B

         Padang, Rs. Djamil – “Sebagai rumah sakit pendidikan, kami harus mendidik calon dokter jantung yang akan menjadi dokter jantung. Kami ingin memberikan ilmu apapun yang terkait dengan jantung. Ilmu tersebut harus dimiliki dan dikuasai dengan baik oleh calon dokter kami,” kata drMasrul Syafri, Sp.PD, Sp.JP (K), FIHA, selaku KPS Jantung RSUP Dr. M. Djamil, saat kegiatan Proctorship Tindakan Pemasangan Evar untuk Kasus Diseksi Aorta Stanford B, Minggu (11/03). Kegiatan ini berlangsung di ruangan Katerisasi Jantung, dihadiri oleh Dokter PPDS,Co-As, dan pihak terkait lainnya. Proctorship Tindakan Pemasangan Evar untuk Kasus Diseksi Aorta Stanford B ini untuk pertama kalinya dilakukan di RSUP. M. Djamil. Bertindak sebagai pemateri dan pembimbing adalah dr. Suko Adiarto, SpJP (K)., Staf Divisi Vaskuler RSJPN Harapan Kita Jakarta. “Kita akan melakukan sebuah tindakan yang disebut dengan Intervensi terhadap Diseksi Aorta. Tindakan ini bisa dikatakan pembedahan, tetapi bedanya dengan tindakan pembedahan lainnya adalah dengan cara memasukkan device atau alat dari pembuluh darah di tangan atau kaki untuk menembus kebuntuan pada pembuluh darah. Kita akan memasang seperti pipa untuk menjamin aliran darah tetap terbuka,’’ ungkap dr. Suko.

        Aorta adalah pembuluh darah terbesar dalam tubuh manusia. Aorta itulah yang kemudian menyebarkan darah ke seluruh tubuh. Pada Aorta bisa terjadi Diseksi Aorta yang adalah sebuah kondisi serius robeknya lapisan bagian dalam dari Aorta. “Penyebab diseksi ini tidak ada yang pasti. Yang kita tahu ada namanya faktor risiko, yaitu faktor yang menyebabkan seseorang jauh lebih mudah terkena penyakit Aorta. Kasus yang paling banyak adalah hipertensi, sehingga aliran darah tidak terkontrol, serta penyakit bawaan yang turun-temurun. Terdapat kelainan pada jaringan di pembuluh darah, pembuluh darahnya rapuh, sehingga gampang membesar atau pecah,” tambah dr. Suko, menurut dr. Suko, meskipun penyakit ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian cukup tinggi, tidak semua Aorta juga harus dioperasi. Aorta yang tidak harus dioperasi ini misalnya robekan sudah melebar, tetapi diameternya belum mencapai target yang dikatakan berkait erat terjadinya pecah. “Kasus seperti ini cukup dikontrol pembuluh darahnya saja, tetapi kalau pembuluhnya sudah pecah atau terjadi robek, baru diperlukan tindakan lanjut,” tambahnya.

        KSP Jantung, drMasrul mengatakan bahwa kasus ini cukup banyak ditemui di M. Djamil, tetapi biasanya pasien langsung dirujuk ke Jakarta. Oleh karena itu, menurutnya, para dokter jantung di M. Djamil harus dikembangkan keahliannya agar dapat menangani pasien kasus Aorta. “Ini namanya Proctorship. Dokter di sini dilatih oleh dokter ahli dari Jakarta, dididik, dan diawasi degan pendampingan. Kalau dokter di sini udah mahir, sudah bisa dilepas, baru kita saja lagi yang melakukannya. Semoga kegiatan ini sukses untuk sekarang dan bermanfaat untuk kemajuan M. Djamil kedepannya,” pungkasnya. (Humas)

Admin
Admin
EDITOR

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *


0 Komentar

?>